Berdasarkan data EF English Proficiency Index (EF EPI) 2025, tingkat kemahiran Bahasa Inggris masyarakat Indonesia berada di peringkat 80 dari 123 negara. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia dalam kategori Low Proficiency. Disamping itu, metode pengajaran di sekolah umum sering kali fokus pada hafalan tata bahasa teoretis ketimbang penggunaan kosakata praktis sehari-hari. Serta minimnya penggunaan bsahasa Inggris di ruang publik dan media lokal membuat kosakata yang dihafalkan siswa cepat lupa karena tidak pernah digunakan berkomunikasi secara nyata.

Kemampuan berbahasa Inggris secara aktif, baik lisan maupun tulisan sangat bergantung pada kekayaan kosakata (vocabulary) yang dikuasai seseorang. Kosakata sering kali dianggap sebagai fondasi utama dalam penguasaan bahasa kedua (second language acquisition). Namun, dalam praktiknya, proses penguasaan kosakata di kalangan pembelajar, khususnya pelajar di Indonesia, masih menghadapi berbagai hambatan mendasar yang membuat kemajuan belajar berjalan lambat. Berdasarkan hasil survei internal dan asesmen diagnostik terhadap 755 siswa SMP Negeri 1 Selogiri, permasalahan yang dihadapi pada pembelajaran Bahasa Inggris berkisar padaMinimnya perbendaharaan kosakata (vocabulary) siswa. Rata-rata penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa <150 kata / siswa.

1. Minimnya perbendaharaan kosakata (vocabulary) siswa. Rata-rata penguasaan kosakata bahasa Inggris siswa <150 kata / siswa.

2. Rendahnya daya ingat siswa. Sekitar 40% siswa yang mampu mengingat kosakata baru yang telah di berikan guru.

3. Kurangnya pembiasaan. Hanya 35,1% siswa yang rutin memperkaya kosakata secara mandiri.

Merujuk pada berbagai data tersebut, SMP Negeri 1 Selogiri membuat terobosan inovasi yang diberi nama STROBERY BARIS (Setoran Vocabulary Bahasa Inggris)